Sunday, July 31, 2011

Brian's Mail (part 3)

Saat jam pelajaran, tiba tiba, handphone ku berbunyi. Brian sms, “Cha, surat hari ini udah di baca semua?”, aku heran dengan sms Brian barusan. Biasanya ia tak pernah menanyakanku akan hal ini. Lalu aku balas sms Brian,”Yan, semua surat hari ini di pegang sama Sara..”, begitu kataku. Setelah itu handphone ku sempat hening beberapa menit, lalu Brian menelponku, tapi ia menelpon pada jam yang salah. Lagu Like a G6 milik the cataracs menderu keras di ruang kelasku. Pak Okan yang saat itu sedang mengajar di kelasku kaget.
“Siapa yang berani berani memainkan handphone di kelas saya?”,bentaknya dengan lantang. Hening beberapa saat. “Ayo!! Cepat mengaku!!”,bentaknya kemudian. Aku yang sedari tadi gugup akhirnya mengaku. Perlahan tapi pasti, aku mengacungkan tangan ku, dan… Pak Okan memarahi ku habis-habisan. Aku di suruh berdiri di depan kelas sampai pelajaran Pak Okan selesai. Lambat laun waktu berjalan, masa hukumanku hari ini habis, tapi sayangnya aku harus merelakan 4 jam pelajaran Pak Okan untuk skorsing.
Selesai pelajaran hari ini, aku pergi ke toko buku depan sekolah ku. Aku menemukan beberapa novel yang akhirnya ku beli. Saat aku sedang membayarnya, aku melihat Raka berjalan ke arahku sambil melambaikan tangannya. OMG. Aku tak percaya, aku membalas senyumannya dan melambaikan tangan. Saat Raka berlari ke arahku, ia melewatiku. Kecewa, Malu, dan hal sebagainya merasukiku. Kecewa karena bukan aku orang yang ia lambaikan, dan Malu karena aku di lihat oleh beberapa pengunjung lain di toko. Aku segera bergegas pergi dari tempat itu. Raka yang melihatku seperti itu terheran heran. Aku mengambil jaket yang kutitipkan dan pergi menjauh dari toko itu, sementara mama sudah menunggu di depan café yang kami janjikan. Aku masuk kedalam mobil, membuka semua bungkusan novel yang masih di segel.
“Cha, bukunya kok di buka semua?”,kata mama masih menyetir.
“Gak papa ma, mau di baca aja..”,kataku suntuk
“Mama tau kamu ada masalah tentang cowok itu kan”,kata mama meminggirkan mobilnya.
“Cowok apasih ma? Gak ada hubungannya kali”,kataku.
“Kamu kira mama gak pernah kaya kamu? Dulu pas mama seumuran kamu, mama juga sering suntuk gara gara masalah cowok..”,kata mama mengelus rambutku.
“Ma, ini Cuma masalah waktu ma,”kataku mengelak.
“Masalah waktu gimana?”,kata mama
“Udahlah ma, gak usah di bahas, aku lagi males bahas Raka itu”,kataku dengan memelas
“Raka? Sadega Rakan yang anaknya Tante Mariska itu? Yang anak basket di sekolah kamu?”,kata mama panjang
“Kok? Mama tau semua itu?”,kataku heran
“Kamu inget gak sih, pas kamu umur 2 tahun, kalian sering main bareng, dulu kita tetanggan, Cha.. Mama inget banget pas mama nitipin kamu ke Tante Mariska, kamu main terus sama Raka…”,kata mama lagi.
“Mah, anaknya Tante Mariska kan namanya Cua.. Kok sekarang nyambung nyambung ke Raka, ma?”,kataku sambil menatap mama
“Nak, setiap orang itu pasti akan berubah.. Ya begitu juga Cua.. Dia pasti gak mau kan di panggil Cua lagi… Kamu bisa maklum lah..”,kata mama.”Ya udah ya, kita lanjutin pulang”,sambung mama.
‘Oh.. Aku baru inget sekarang.. Cua.. Raka.. Hihi, jauh sih tapi dari dulu emang dasarnya ganteng sih.. Waktu kecil dulukan, dia banyak koreng nya, kok sekarang mulus gitu ya? Hmm.. Aneh sih, berubah 180 derajat banget.. Eh iya, ini bisa jadi cara buat supaya aku bisa deket sama dia..  Haha..’,pikirku sambil cengengesan.
“Cha, kamu gak papa kan? Kok senyum senyum sendiri?”,kata mama
“ah, ga papa ma..”,kataku malu. Mama lalu melanjutkan perjalanan pulang.

-----------

To Be Continued In Part  4

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...