Friday, July 29, 2011

Brian's Mail (part 2)

Pagi ini aku ada planning buat pergi ke toko buku deket sekolah.. Ya sekedar buat cari novel aja.. Kayak biasa, mama nganterin aku ke sekolah naik mobilnya. Ya, papaku kerja di Hong Kong, dan pulangnya cuma tiga bulan sekali.. Mama nganterin aku sampe depan sekolah, dan mama ngasih aku uang jajan seperti biasa, Rp 50.000 perhari. Sampe sekolah aku duduk di bangku yang kaya biasanya, bangku yang ada coretan tip-x bertuliskan  “ReXoMiKaDo” itu bangku juga aku sendiri yang coret-coret, padahal pihak sekolah udah sering wanti-wanti muridnya supaya jaga kebersihan barang barang sekolah, tapi ya namanya anak remaja, kadang suka bandel gitu lah.. Biasanya kalo pagi gini, kolong mejaku udah penuh sama surat anak anak, ya kadang aku baca kadang aku sering kasih Sara. Sara itu hampir sama profesinya kaya aku, bacain masalah orang terus kasih solusi. Tapi, belakangan aku sering kasih surat itu ke Sara. Soalnya, aku aja lagi kelilit sama masalah aku sendiri.
“Sar, ini surat yang ada dikolongku, kamu baca aja ya..”, kataku.
“Kok, kasih aku lagi sih, Cha? Biasanya kamu suka banget baca baca beginian dari pad abaca buku, kok sekarang malah kebalik gini? Kamu kenapa sih, Cha?”kata Sara perhatian.
“Gak papa kok Sar.. Cuma lagi males bacain surat anak anak aja…”,kataku sambil menaruh dagu di meja
“Oh, yaudah..”, kata Sara kembali ke kelas nya. Pada saat Sara pergi, satu surat tertinggal, pas Sara mau aku panggil, aku mengurungkannya.’ Satu surat apa beratnya?’ gumamku. Aku heran dengan surat yang satu ini. Surat ini terlihat lebih berbeda dengan surat yang lain. Jika surat lain pakai amplop biasa, surat ini tidak. Surat ini beramplopkan warna hitam. Aku penasaran dengan isi surat itu, maka kubuka perlahan. Tapi saat aku ingin membuka suratnya, Bel berbunyi. Aku mengurugkan membuka surat itu sampai jam pelajaran sebelum istirahat berakhir.
*Bel pun berbunyi*
Hingga bel berbunyi, aku belum sempat membuka surat itu. Aku memasukkan surat itu ke dalam tasku. Rene dan Sara mengajakku ke kantin sekolah, dan aku menerima ajakan mereka. Saat berjalan menuju kantin, seorang laki laki yang wajahnya tak asing menghapiri kami. Ia berlari sambil terengah engah. Sara yang sedari tadi memerhatikannya tampak heran, begitupula aku dan Rene. Laki laki itu tiba tiba menarik tanganku. Laki laki itu tak lain Brian. Ia menarik tanganku di tengah keramaian kantin, ia membawaku ke kelas nya, X b.
“Yan, apaan sih narik narik?”, kataku ketus
“ini masalah serius, Cha!”, katanya dengan nada panik.
“Iya ,masalah apaan sih sampe harus narik narik kaya gini”, kataku masih ketus.
“M-m-m… masalah… masalah aku, Cha.. ini masalah hati Cha…”, katanya gugup
“Halah, ada ada aja lo,Yan.. Ya biasa aja kali, Yan.. Emang lo mau gue bantu apa?”, kataku mulai menenangkan Brian.
“Jadi, aku suka sama seorang cewek,Cha..”,kata Brian memulai pembicaraan kami.
“Terus? Kamu mau nembak dia? Atau apa?”, kataku bertanya.
“Ya, maunya sih gitu, tapi aku takut di tolak sama dia. Ya aku juga cukup tau dirilah siapa aku siapa dia..”, katanya murung.
Aku memegang tangan sahabatku itu,”Yan, lo tau apa yang harus lo lakuin ke cewek yang lo suka itu.. Lo sahabat gua,Brian.. Gua tau lo pasti bisa nembak cewek itu dengan cara lo sendiri..”
“Lagi pula, gue tau lo kok, lo gak kasar sama cewek, lo baik juga, dan lo itu cukup famous diantara cowok cowok di sekolah ini”, kataku menenangkan sahabatku..
“……”,Brian terdiam. “Yaudah ya, gue duluan, gue laper.. Mau makan.. “, kataku meninggalkan Brian di kelasnya.. Aku segera menghampiri Rene dan Sara di kantin.
“Eh,Cha.. Si Brian kenapa lagi?”,tanya Rene.
“Biasa, cowok… Mau nembak cewek”,kataku terengah-engah.
“Oh, kirain masalah serius”,kata Sara. Setelah kami berbincang bincang, makanan yang kami pesan habis. Kami kembali ke kelas masing masing. Saat kembali ke kelas aku teringat akan sesuatu. Surat yang tadi terjatuh. Aku kembali megambilnya. Saat aku ingin membukanya, salah seorang temanku berkata,”Cie, Echa.. Ada yang naksir.. suit suit”,untuk kedua kalinya, aku mengurugkan niatku lagi untuk membuka surat itu, dan aku berencana membukanya di rumah.


To Be Continued In part 3

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...